Kemendikdasmen Buka Lomba Penulisan Artikel 2026 untuk Guru dan Tendik, Ini Tema dan Ketentuannya
Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Ditjen GTK) Kemendikdasmen resmi membuka Lomba Penulisan Artikel bagi Guru dan Tenaga Kependidikan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pendaftaran dibuka sepanjang 1–31 Juli 2026.
Tema besarnya terasa dekat dengan dunia sekolah: “Dari Ruang Kelas Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Kalimat itu sederhana, tetapi isinya lebar. Guru diminta tidak sekadar mengajar, melainkan menuliskan praktik baik, pengalaman, inovasi, dan refleksi yang lahir dari keseharian di sekolah.
Pesertanya terbuka bagi guru dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, hingga pendidikan kesetaraan. Statusnya juga tidak dibatasi hanya ASN. Non-ASN pun boleh ikut, asalkan memiliki NUPTK.
Yang menarik, artikel yang dilombakan bukan tulisan akademik yang kaku. Panitia justru mengarahkan agar artikel ditulis dengan gaya populer, komunikatif, dan berbasis pengalaman, data, atau hasil refleksi. Panjang tulisan berkisar 1.500–2.000 kata, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta wajib karya asli, bebas plagiarisme, dan belum pernah menjadi juara lomba sejenis.
Subtema yang disediakan pun cukup luas. Mulai dari pendidikan inklusif, praktik pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, pendidikan matematika dan sains sejak dini, peningkatan kesejahteraan guru melalui sertifikasi, program kepemimpinan guru, hingga pengembangan kompetensi guru SD mengajar Bahasa Inggris.
Artikel diunggah dalam format PDF, disertai surat pernyataan keaslian karya dan biodata singkat. Tenggat pengiriman juga sama: 31 Juli 2026. Menariknya lagi, setiap peserta boleh mengirim lebih dari satu artikel.
Panitia menyiapkan hadiah untuk tiga peserta terbaik berupa tablet Android dan sertifikat.
Ini bukan sekadar lomba menulis. Ini undangan untuk menunjukkan bahwa perubahan pendidikan sering lahir dari ruang kelas yang sederhana—dari guru yang tekun, dari pengalaman yang jujur, lalu ditulis dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu, tulisan dari sekolah kecil justru menjadi gagasan besar untuk Indonesia.
Posting Komentar